Jumat, 08 Juli 2022

Adji - bintang kecilku


Hari itu selepas subuh, aku terbangun karena suara gaduh di kamarku. Aku lihat ibu menangis dan bapak terlihat begitu serius mengobrol dengan seorang bapak yang lain. Bapak memegang bungkusan kain putih yang kemudian dikuburkan di lantai kamar. Jika aku tak salah ingat, usiaku sekitar 8 tahun waktu itu. Merasa bingung dan penasaran, kuberanikan diri bertanya pada bapak, ada apa sebenarnya. Bapak bilang adikku baru saja lahir, tapi tak bisa diselamatkan. "Itu tadi yang dibungkus kain putih adalah adikmu" begitu kata bapak. Nalarku masih belum sampai. Aku tak pernah tau kalau ibu sedang hamil.


Setelah aku lebih besar, rasa penasaran tentang adik bayi bernama Adji muncul kembali. Aku mendapat penjelasan dari bapak dan ibu. Saat itu ibu sedang hamil muda, mungkin sekitar tiga bulanan, tapi ibu terkena penyakit cacar dan demam tinggi. Hal itu menyebabkan ibu mengalami keguguran. Lalu kenapa bapak bisa memberi nama Adji? Bukankah adek bayi belum terbentuk dengan sempurna dan belum jelas jenis kelaminnya. Bapak menjelaskan lagi kalau dia merasa bayi itu adalah bayi laki-laki, jadi bapak memberinya nama Santosa Adji Pangestu.


Aku tak pernah bertemu Adji, aku hanya mengenalnya dari cerita bapak dan ibu. Namun entah kenapa, selalu ada rasa rindu setiap kali aku mengingatnya dan menceritakan tentang dia. Sebelum Adel dan Bayu lahir, aku seringkali memanggil Adji untuk sekedar menemaniku memandang bintang. Mungkin itu alasannya aku merasa dekat dengannya. Sekarang, setiap aku lihat satu bintang kecil yang tepat berada di sisi bulan, aku selalu ingat tentang dia. 💙


Ditulis oleh Nevri Chandrani Nooringhati

29 Januari 2022



Jumat, 25 Februari 2022

Bukan Ibu tak mau, Ibu hanya belum bisa.


"Iya boleh, besok ibu beliin ya, tapi Ibu gak janji" 

"Kalau Ibu punya uang, Ibu pasti beliin Mbak, gak usah kamu minta juga pasti Ibu beliin"

Kalimat-kalimat itu yang sering kami dengar dari mulut Ibu. Aku tau, jauh di dalam lubuk hatinya, sangat besar keinginan Ibu untuk meluluskan apa yang jadi permintaan anak-anaknya. Dari Ibu kami belajar untuk pertama kalinya, bahwa berharap terlalu kuat akan mengecewakanmu juga dengan kuat.

Pasti kami marah, kesal, sedih. Tapi kami tau, kami percaya, dan kami melihat bahwa apa yang Ibu bilang memang benar. Dari Ibu kami belajar untuk pertama kalinya, bahwa bersabar itu membawa ketenangan dan kedamaian.

Ibu yang selalu memberikan apapun yang dia punya untuk kami. Hati, pikiran, tenaga, emosi, makanan, minuman, uang dan banyak yang lain. Tapi kadang hanya karena satu hal yang kami mau tapi tidak bisa dia sediakan, kami dengan cepat marah dan kesal, menyalahkan Ibu atas semua keterbatasan yang hadir dalam hidup kami.

Satu hari saat anak-anaknya sakit dan meminta sesuatu, Ibu tiba-tiba menjadi peri yang datang dan mengabulkan apa yang anaknya minta, Ibu juga punya mantra. "Oke, Ibu beliin apa yang kamu mau, tapi kamu sembuh ya?" Si anak pun mengangguk menandakan setuju, dan dengan bahagia menerima apa yang dia minta. Keesokan harinya, anak Ibu benar-benar sembuh. Mungkin Allah yang menjawab doa Ibu, karena Ibu gak mau anaknya sakit dan kesusahan.

Dari Ibu kami belajar berharap, bukan memaksa. Dari Ibu kami belajar berharap dan juga siap kecewa. Dari Ibu kami tau bagaimana rasanya kecewa dan kecewa mengajarkan kami untuk menerima, bahwa jawaban dari permintaan tidak selalu "ya" tapi juga ada "tidak" dan "nanti".

Review Novel Harry Potter And The Cursed Child

Waktu aku dibeliin novel ini, aku pikir ceritanya gak akan seseru novel Harry Potter lainnya. Apalagi waktu tau kalau novel ini sebenernya naskah drama. Aku pikir bakalan aneh deh, baca novel tapi isinya dialog semua. Ternyata aku salah! Setelah aku baca novelnya, aku kayak lagi nonton dramanya secara langsung. Setiap dialog yang aku baca dengan nama karakter yang memerankannya, memperjelas imajinasi ku.

Awalnya aku pikir "the cursed child itu" adalah Albus Severus Potter atau Scorpius Malfoy, ternyata bukan. Setelah aku membaca setengah bagian novelnya, barulah aku tau kalau anak yang dimaksud di judul novel ini adalah Delphi Diggory.

Bagian akhir cerita ini agak sedikit rumit. Apalagi dengan alur yang dibuat maju mundur. Namun justru di akhir cerita ini kita akan semakin dibawa masuk ke dalam sejarah tentang sosok Delphi Diggory. Seorang anak perempuan yang menyembunyikan latar belakang keluarga aslinya. Semakin jauh ke dalam akhir cerita, pembaca juga akan dibawa hanyut dalam kegalauan dan bagaimana kerasnya perjuangan Delphi demi bertemu sang ayah yang sudah meninggal.

Note: Deplhi adalah anak yatim piatu. Ibunya meninggal karena terkena kutukan Molly Weasley dan ayahnya meninggal karena kalah saat berduel dengan Harry Potter.

Dayu dan Kelana

"Mas, kapan kamu pulang?" Dayu bertanya lirih kepada calon suaminya. "Mas usahakan minggu ini pulang, sayang." Kelana mencoba menenangkan hati wanitanya.

-Cerita Mundur-

Sore itu Dayu mendapat DAMRI terakhir dari Kota Baru Parahyangan. Bis itu penuh sesak saat Dayu naik tapi berangsur-angsur kosong karena kebanyakan penumpang adalah penduduk asli belakang perumahan KBP.

"Ah.. akhirnya bisa duduk juga" lenguh Dayu seraya menghempaskan badannya di kursi yang kosong. 

"Capek banget ya, Mbak?" Ucap seorang laki-laki yang ternyata duduk di samping Dayu. Dayu hanya membalasnya dengan senyum malas sambil memperhatikan sosok di sampingnya. Lelaki itu kurus, rambutnya gondrong dan dia membawa joran serta beberapa alat memancing lainnya. "Aduh bau ikan" batin Dayu.

"Aku Kelana. Nama kamu siapa?" Dayu terkesiap mendengar pernyataan dan pertanyaan dari orang di sampingnya. "Aku gak nanya nama kamu. Terus kenapa kamu mau tau nama aku?” jawab Dayu yang masih bingung. "Cuma mau kenalan aja, ya syukur-syukur bisa jadi jodoh" jawaban Kelana membuat Dayu makin merasa aneh. "Bisa-bisanya bicara soal jodoh padahal ketemu aja gak pernah. Kamu aneh!"

Saat mereka asyik berdebat. Seorang bapak mendekati mereka dan menagih ongkos. 

Dayu mencari uang ongkosnya, tapi uang itu tiba-tiba hilang. Dayu kebingungan. "Pak, ini ongkos kami berdua" Kelana memberikan uang dua puluh ribu kepada si bapak karcis. Dayu malu, tapi dia tetap berterima kasih pada Kelana. "Makasih ya, nanti aku ganti uang kamu" kata Dayu. "Hheh, gimana mau ganti, aku aja gak tau nama kamu. Terus gimana caranya kamu mau ganti?" sanggah Kelana. "Aku minta nomor rekening kamu deh, atau akun uang elektronik yang mungkin kamu punya?" pinta Dayu.

Kelana mulai agak kesal. Sulit sekali untuk tau nama perempuan yang sudah sejak sebulan yang lalu dia kagumi. Tanpa Dayu sadar, Kelana sering memperhatikan Dayu saat di dalam bis. "Gini deh, aku minta nama Instagram kamu aja sebagai gantinya." kata Kelana. "Oke, Ini Instagram aku DayuyaD" jawab Dayu.

Sehari setelah pertemuan itu Dayu dan Kelana memulai perkenalan mereka di DM Instagram. Dayu kemudian tau, kalau Kelana adalah seorang pembawa acara "Yuk Mancing".


Bersambung

Rabu, 26 Agustus 2020

Seblak - Bermula dari cemilan rumahan, kini menjadi salah satu menu cemilan di Cafe

Dulu, kalau mau bikin seblak mesti ngajak temen-temen buat patungan bahan-bahannya. Biasanya sih bisa bawa yang ada di rumah masing-masing. Bahan-bahannya juga masih sederhana banget belum yang macem-macem toppingnya.

Nih bahan-bahannya pada masa itu:
1. 1/4 kerupuk sumber sari
2. 5 biji cabe rawit
3. 2 siung bawang putih
4. 1 potongan kecil kencur
5. Garem dan gula putih secukupnya, ya kurang lebih masing-masing 1 sdm
6. Tambahannya bisa telur atau mie kriting

Cara masaknya sih ga jauh beda sama sekarang, yuk cobain bareng-bareng:
1. Ulek bawang putih, cabe rawit dan kencur sampai halus
2. Nyalain kompor dan siapin wajan dengan sedikit minyak goreng terus tumis bumbu yang udah diulek tadi sampe harum
3. Masukkin telur ke wajan dan aduk sampai telur dan bahan sebelumnya tercampur rata
4. Tambahin tiga gelas air ke dalem wajan, tunggu sampe mendidih
5. Setelah air mendidih, masukkin mie kriting dan tunggu sampe mie setengah mateng, terus masukkin kerupuk sumber sari 
6. Taburin garem dan gula putih secukupnya (mulai dengan sedikit demi sedikit, biar gak keasinan atau kemanisan), aduk semua bahan sampe tercampur merata
7. Jangan lupa diicip dulu rasa olahan seblaknya, kalau rasanya belum pas, jangan ragu untuk tambah garem atau gula, atau tambah air kalau terlalu asin
8. Ciri-ciri seblak yang udah siap dinikmati adalah kerupuknya udah mulai kenyal dan mie kritingnya udah lebih lembek
9. Matiin kompor, pindahin olahan seblak dari wajan ke mangkok atau tempat makan lainnya. Jika suka seblak dengan kuah, masukkin juga kuah seblak ke dalem mangkok. Jika suka seblak kering, tinggalkan saja kuahnya di wajan (lebih baik meninggalkan daripada memberi harapan palsu).
10. Selamat menikmati

Waktu aku SD, bisa tiap minggu aku masak seblak sama temen-temen aku. Aku ngerasa ketagihan dengan paduan rasa gurih pedesnya, tekstur kerupuknya, dan kebersamaannya sama temen-temen. Awalnya aku ngerasa aneh, ini makanan apaan sih? kerupuk kok direbus! Tapi setelah dicobain, ternyata rasanya enak. Akhirnya aku mulai coba bikin sendiri di rumah. Percobaan pertama, gagal. Percobaan ke dua, yaa... lumayan lah. Percobaan ke tiga dan seterusnya, semakin baik dan semakin memuaskan (diriku sendiri).

Sekarang, kalau mau seblak mah gampang. Tinggal buka aplikasi, terus pesen secara online, tunggu bentar, nyampe deh tuh seblak ke rumah (tapi jangan lupa bayar dulu ya, kasian tuh mamang ojol nungguin depan pintu). Gak usah ribet ngulek, tangan bau bawang, bersin-bersin gegara bau tumisan cabe yang nyengat banget ke idung. Seblak saat ini juga udah macem-macem isiannya, bahkan kadang udah gada kerupuknya sama sekali. Ada seblak pasta, seblak cilok, seblak tulang, seblak mitul (mi dan tulang), seblak batagor, seblak ceker, dan seblak-seblak lain yang sekarang udah menjamur di warung-warung jajanan sampai ke cafe. Bahkan ada kios atau kedai-kedai khusus yang jualan aneka macem seblak.

Nah yang ada di foto ini namanya seblak CLBK. CL untuk cilok, B untuk batagor, K untuk kerupuk. Seblak ini aku beli dari tetangga aku, dia seorang ibu rumah tangga yang sedang menikmati bisnis kecil-kecilannya sebagai pedagang seblak dan minuman ringan. Ini seblaknya enak loh, yang bikin enak tuh ada aroma daun jeruk dan sambelnya yang selalu seger, jadi sambelnya gak apek baunya. Kadang aku makan seblak ini pake nasi juga, jadi kayak lauk makan gitu. Biasanya aku jajan seblak kalau lagi pusing, pusing dengan janji-janji manismu yang membuatku ingin makan yang pedes-pedes. Perezzz,,, Gak tau sugesti atau emang ada fakta ilmiahnya, kok kalau lagi pusing terus makan pedes tuh, pusingnya bisa ilang kemudian muncul rasa yang lain. Rasa mules... (garing Nev!)

Ngomong-ngomong, makasii ya, buat kalian yang udah baca. 😘 

Senin, 24 Agustus 2020

It's Okay to be Not Perfect


Aku biasanya adalah seorang yang cuek dan rame banget. Sebodo amat lah kalau orang-orang memandang remeh aku hanya dari fisik, toh temen, sahabat dan keluarga aku selalu menganggap aku istimewa tanpa ada kriteria.

--
Tapi... aku hanya manusia biasa yang bisa ngambek juga. Pernah satu hari aku ngerasa partner kerjaku waktu di hotel seperti pilih kasih buat bantuin partner perempuannya. Si cantik nan langsing, putih dan manja dibantu dengan rela hati, sedangkan aku yang semok boro2 dibantuin, dilirik aja kagak. Hari itu suasana hati aku rusak, aku marah, kesel tapi gak sedih, ngapain nyedihin orang begitu, buang2 energi.
--
Sejujurnya yang jadi ke-"insecure"anku adalah prestasi. Aku yang ditakdirkan menjadi anak tertua, seperti menopang beban berat untuk mengangkat nama baik orang tua dan menjadi panutan adik2ku. Aku yang diharapkan bisa menjadi andalan orang tua pada saat itu, ternyata mengecewakan mereka dengan tidak memenuhi ekspektasi yang mereka buat. Sebaliknya, adik2ku tumbuh menjadi anak2 dengan prestasi yang baik, hampir semua piala yang ada di rumah itu mereka yang dapat. Mereka bisa masuk sekolah dan Universitas favorit. Aku mah apa atuh, bisa lulus kuliah juga udah Alhamdulillah. Aku menganggap diriku sendiri adalah hasil yang gagal cetak. WAKTU ITU.
--
Sekarang aku udah sembuh. Aku bisa menghargai dan menerima diriku sendiri, aku bisa sayang dan bangga sama diriku sendiri. Aku bukan hasil cetak yang gagal.
--
Bunga teratai itu cantik, tapi kalian perlu tau, kalau dia mau kecantikannya terpancar, dia harus ada di dalam air yang keruh pekat, dan dia hanya bisa menunjukkan kecantikkannya beberapa jam saja dalam sehari.

Gak ada yang sempurna dan abadi di dunia ini, semua punya porsi kekurangan dan kelebihannya sendiri.
--
Ayo, mulai cintai dan sayangi dirimu sendiri. Buat dirimu berharga dengan potensi yang ada. Big hug buat kalian yang masih berproses untuk menerima diri sendiri.

Filosofi Teh Oolong


-satu untuk semua-

Hidup adalah tentang pilih, dipilih, memilih, bukan pilihan.
Hidup adalah tentang berjuang, menang, bertahan, bukan main aman.
Hidup adalah tentang kerja sama bukan sama-sama kerja.
Hidup adalah tentang pasangan kiri dengan kanan.
Hidup adalah tentang memberi dan memberi, bukan menerima lalu pergi.
Hidup adalah tentang bagaimana untuk solusi, bukan kenapa untuk menyalahkan.
Hidup adalah tentang berfikir apa yang bisa dilakukan, bukan menghitung apa yang sudah diberikan.
Hidup adalah tentang mempertahankan kebaikan masa lalu, untuk tetap terus menjalani hari ini dan menjadi lebih baik esok hari.
Hidup adalah tentang banyak bicara kepada diri sendiri dalam bentuk introspkesi.
Hidup adalah tentang saling menghidupkan.
-Nevri-

Note : Hidup kadang pahit, kayak oolong tea. Tapi pahitnya oolong tea bisa membunuh lemak jahat didalam darah dan tubuh kita. Sama halnya dengan pahitnya hidup yang bisa membunuh rasa malas, dan rasa sedih kita, supaya sisa semangat kita bisa kembali berkobarrr..... 

Jumat, 23 Agustus 2019

Untuk Trisna


Hujan membuat besar arti penantian
Saat satu menanti, aku hanya bisa meratapi
Hujan berikan makna besar kasih sayang
Bahwa hati takkan menipu
Bahwa hanya satu yang ada dalam mimpi
Hujan sertakan besar rasa bersalah
Pada waktu dan segala desakkan perasaan
Bahwa aku juga memikirkanmu
Bahwa aku pun membutuhkanmu
Hujan...
Bawa aku pulang...

-2.11.2008-

Nevri Nooringhati

Selasa, 20 Agustus 2019

Dunia Mana


Pandanganku tertuju pada satu titik
Kau pikir aku sedang berpikir
Kau pikir itu kamu
Kau pikir aku pikirin kamu
Tidak! aku tidak sedang berpikir
Apalagi tentang kamu
Kamu pikir siapa kamu?

Di dalam aku
Aku tau kemana pandanganku tertuju
Itu mereka

Di dalam aku
Aku tau aku sedang berpikir
Pikir tentang ini
yang kau baca

Jadi aku di mana?

-20.08.2019-
Nevri Nooringhati

Selasa, 12 Maret 2019

Langkah-langkah Naik Angkutan Umum (angkot)

Hai hai..
Di postingan kali ini saya akan berbagi tentang langkah-langkah naik angkot versi saya dan mungkin versi kebanyakan orang yang lain juga. Selamat membaca 😊

1. Pertama, pastikan anda sudah tau kemana tujuan anda dan angkot dengan trayek atau jurusan apa yang akan anda gunakan. Kalau belum tau trayek angkot-angkot, bisa cek dengan mengunduh aplikasi "kiri app" di Playstore.

2. Siapkan uang PAS, atau uang receh atau uang dengan pecahan kecil. Mulai dari dua ribu-dua puluh ribu. Simpan di saku celana atau di tempat yang mudah dijangkau di tas. Kenapa? Supaya anda tidak harus mengeluarkan dan membuka dompet yang mungkin akan menarik atau mengundang motivasi pencopet untuk menjadikan anda target.

3. Menunggu angkot di pinggir jalan atau di halte yang DILALUI oleh angkot sesuai dengan trayek tujuan anda. Penting anda tau, usahakan tidak memberhentikan angkot di dekat lampu merah, di tikungan tajam, di tempat-tempat yang ada tanda dilarang berhenti, di sekitar pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas dan di tempat-tempat yang menyulitkan supir untuk berhenti. Sederhananya pilih tempat yang aman dan strategis untuk anda dan supir ketika memilih tempat untuk memberhentikan angkot, baik ketika akan naik atau akan turun.(Karena bukan cuma wanita yang ingin dimengerti, tapi pak supir juga ingin dimengerti)

4. Memberhentikan angkot dengan cara melambaikan tangan atau menjulurkan tangan dan jari telunjuk.

5. Setelah mendapat angkot sesuai dengan trayek tujuan anda, naik ke angkot dengan kaki kanan lebih dulu dan hati-hati dengan kepala anda supaya tidak terbentur bingkai pintu, karena itu sakit dan malu. Jika anda duduk di kursi penumpang bagian depan dekat supir, silahkan berpegangan pada pegangan yang biasanya tersedia di bagian atas bingkai pintu untuk membantu anda mengangkat dan memposisikan badan anda dengan nyaman di jok. Jika anda duduk di bagian belakang supir, duduk dengan posisi yang lurus, JANGAN menyerong kecuali anda memakai rok super pendek dan duduk tepat di depan pintu angkot. Ketika anda memilih naik transportasi umum, khususnya angkot, berarti anda harus siap untuk bertoleransi dengan penumpang lainnya, khususnya dalam hal berbagi tempat untuk duduk.

6. DILARANG merokok, meludah, membuang sampah sembarangan, berbicara kotor atau kasar, bersikap berlebihan, memakai minyaj wangi secara berlebihan atau melakukan sesuatu yang mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang di dalam angkot.

7. Ketika di dalam angkot, perhatikan barang bawaan anda, biasakan menyimpan barang-barang berharga di posisi/lokasi yang aman di dalam tas. Tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan atau mencolok. Simpan tas anda di dalam pelukan anda. Selalu waspada dengan copet. Jangan lupa perhatikan di mana lokasi anda untuk turun dari angkot.

8. Jika anda sudah mendekati lokasi untuk turun dari angkot. Seperti di awal tadi, pilih tempat yang strategis dan aman yang terdekat dengan tempat tujuan anda. Ucapkan kata KIRI Pak dengan cukup keras supaya Pak Supir bisa mendengar anda.

9. Turun dengan hati-hati dan dengan kaki kiri lebih dulu. Kenapa? Supaya anda bisa menyeimbangkan badan anda dengan cepat dan mantap.

10. Bayar ongkos sesuai tarif yang berlaku. Biasanya anda harus berdiri di samping pintu penumpang bagian depan dengan tangan kanan terjulur ke arah supir. Anda bisa menunggu di posisi yang sama untuk kembalian jika anda membayar dengan uang pecahan besar/tidak pas.

Sekian langkah-langkah naik angkot yang bisa saya bagikan dengan anda-anda sekalian. Semoga bermanfaat dan membantu. 😊

Tambahan : di beberapa tempat khususnya di lampu merah ada pengamen yang akan menyanyijan lagu-lagu cinta atau lagu-lagu yang sesang populer pada masanya, anda bebas memutuskan untuk memberi mereka apresiasi berupa uang atau tidak. Jika anda mau memberi uang, pastikan menggunakan tangan kanan dan dengan hati yang tulus ya ketika memberikannya. Jika anda tidak akan memberikan uang karena sesuatu dan lain hal, minta maaf/tolak mereka dengan sopan dengan cara melambaikan tangan dengan lima jari yang terbuka seperti ini✋.

Jumat, 22 Februari 2019

Cara Memasak Nasi Manual

Di postingan kali ini aku mau berbagi langkah-langkah memasak nasi tanpa rice cooker atau magicom. Dulu, waktu aku masih SD hampir setiap hari harus masak nasi dengan cara yang konvensional. Jadi silahkan disimak langkah-langkah berikut ini :

1. Ambil beras secukupnya (biasanya aku masak 3 cangkir takar untuk 5 orang per-hari) terus masukkan ke dalam panci ukuran sedang.

2. Cuci beras dengan air bersih yang mengalir. Supaya beras bersih dari kulit gabah aku harus mengosek beras yang sudah terendam air. Setelah air cucian beras keliatan keruh dan gabah-gabah terlihat mengambang, buang air cucian beras dan cuci lagi beras sampai dua atau tiga kali. Biasanya sih sampai air cucian beras agak bening, katanya jangan terlalu bersih kalau nyuuci beras biar vitaminnya nggak hilang.

3. Setelah beras bersih, buang sisa cucian beras yang masih tersisa di dalam panci terus isi lagi panci dengan air bersih atau air minum (biar higienis). Pastikan air jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit, biasanya kira-kira sebatas satu ruas jari di atas permukaan beras. Biasanya panci yang aku pakai buat proses ini nggak aku tutup, biar gampang kalau mau ngaduk-ngaduk berasnya.

4. Nyalakan kompor dan masak/rebus beras sampai setengah matang kira-kira 15-20 menit atau sampai beras keliatan setengah matang, jangan lupa sesekali diaduk biar semua beras tercampur rata dan nggak gosong di bagian bawah.

5. Sementara menunggu beras yang sedang di masak/rebus, aku biasanya nyiapin langseng. Langsengnya aku isi air sampai kira-kira satu ruas jari di bawah saringan. Panaskan langseng dan tunggu sampai terdengar airnya mendidih.

6. Setelah nasi keliatan setengah matang dan air di langseng terdengar mendidih, pindahkan nasi setengah matang dari panci ke dalam langseng dan tutup langseng rapat-rapat. Proses ini bertujuan untuk menanakkan atau mematangkan nasi dengan sempurna dengan cara dikukus. Tunggu sekitar 15 menit atau biasanya sih aku buka tutup langseng dan langsung cek apakah nasinya udah pulen atau belum, kalau nasinya udah pulen artinya udah mateng dan siap untuk dimakan, kalau belum pulen ya tunggu sebentar lagi sampai nasinya bener-bener mateng ya.
*jangan lupa ya, pastikan saringan di dalam langseng sudah terpasang dengan aman.

7. Nasi yang udah mateng atau udah tanak akan aku pindahkan ke wadah khusus untuk nasi, namanya bakul atau ceting, wadah seperti mangkok dengan lubang-lubang kecil yang berfungsi untuk sirkulasi udara. Kenapa dipindahkan ke ceting? Supaya uap dari nasi bisa keluar dengan bebas dari lubang-lubang kecil tadi dan nasi tidak berair juga tidak cepat basi. Untuk proses pemindahan nasi dari langseng ke ceting aku biasanya pake centong nasi atau sendok untuk nasi yang ukurannya lebih besar dari sendok makan, biar proses mindahinnya lebih cepet.

Kelebihan memasak nasi secara manual :

1. Nasi lebih enak dan ada wangi yang khas dari asap kompor dan uap panci
2. Nasi biasanya lebih pulen (kalau proses masaknya benar dan telaten)
3. Bisa meningkatkan kesabaran (sarana meditasi 😄)
4. Irit listrik

Kekurangan memasak nasi secara manual :

1. Lamaaaaaa.....
2. Nggak bisa jauh-jauh dari dapur, apalagi ditinggal ngeMall
3. Repot mesti pindah-pindahin dari panci ke langseng ke ceting
4. Boros gas, wkwkkwkwkwk

Pada dasarnya setiap aktifitas, setiap sesuatu pasti punya kekurangan dan kelebihan. Namun semua itu kembali pada diri kita sendiri, bagaimana kita akan menyikapinya.

Selamat memasak nasi untuk kalian perempuan-perempuan tangguh dan laki-laki anti gengsi, sesungguhnya kalian memasak nasi adalah untuk kelangsungan hidup kalian sendiri.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Terima kasih sudah membaca blog saya.

Rabu, 23 Januari 2019

Bayi Tujuh Bulan Ikutan Nongkrong di Angkringan Yogyakarta

Khadijah  Goes to Yogyakarta Part 2

Mari kita lanjutkan ceritanya,
Setelah puas main air di Goa Pindul dan jajan-jajan cilok tapi bukan cilok, orang Bandung suka banget cilok (aku sih sebenernya yang suka cilok), akhirnya kami rombongan dari kantor memasuki bis lagi untuk melanjutkan perjalanan ke hotel. Hotel tempat kami menginap ada di pusat kota Yogyakarta, deket banget sama Malioboro dan bisa jalan kaki aja kalau mau main ke sana. Nama hotelnya Grage Hotel Yogyakarta.
Di perjalanan kami sempet berhenti dulu di gerbang masuk area wisata Gunung Kidul, untuk kepentingan dokumentasi. Aku sendiri gak ikutan turun buat foto-foto karena Khadijah sedang terlelap dan pangkuanku. Baru setelah rekan-rekan puas foto-foto, bis meluncur langsung ke hotel dan kami pun masuk ke kamar masing-masing sesuai daftar yang sudah ditetapkan oleh panitia.
Hotelnya bersih, nyaman, kamarnya cukup luas, ada teras di depan kamar buat ngobrol-ngobrol cantik atau ngopi-ngopi manja, kamar mandinya bersih semua fasilitas di kamar mandi juga cukup lengkap. Sesampainya di kamar, hal pertama yang ku lakukan adalah nyiapin air untuk mandi Khadijah, karena kami sampai di hotel udah sore dan masih banyak kegiatan yang harus dilakukan. Khadijah mandi di wastafel kamar mandi, daaaannnnnn dia jerit-jerit karena dia trauma sama air gegara ikutan nyemplung pas di Goa Pindul. Setelah semua siap dan udah wangi lagi, kami (aku, suami dan Khadijah) pamit sama panitia gathering untuk pergi keluar hotel menemui kerabat dari babeh ku, jadi babeh nitip oleh2 buat kerabatnya karena mumpung aku ke Yogya.
Setelah janjian sama kerabatnya babeh dan memutuskan akan ketemuan di angkringan Mbok Raminten kami pun meluncur menggunakan GrabCar. Angkringan ini rame banget, sampe waiting list, sambil nunggu kerabat babeh kami duduk di kursi tunggu dan lihat susana di sekeliling angkringan ini. Desain angkringan ini beda dengan angkringan di Malioboro, angkringan ini lebih seperti restoran karena bangunannya permanen, tapi tempat untuk duduknya lesehan seperti angkringan yang di pinggir jalan. Tidak berapa lama setelah kami datang, kerabat babeh juga datang, dia wanita yang cantik dan ramah. Kami pun masuk ke bagian dalam angkringan dan mulai memesan makanan.
Ternyata bukan tempat duduknya aja yang sama dengan angkringan, tapi menu-menunya dan harga makanannya juga gak jauh beda sama angkringan aslinya. Sistem pemesanannya juga gampang, tinggal panggil mbak-mbaknya yang pake baju tradisional jawa (kembenan) lalu pesan makanan yang kita mau dan langsung dibayar kontan, sesudah memesan dan membayar kami tinggal menunggu pesanan kami diantar. Makanan di angkringan ini enak dan khas banget bumbu-bumbunya, harganya juga murah dan yang penting porsinya mengenyangkan. Kami makan diteraktir sama kerabatnya babeh. Asik sih tapi tengsin juga, secara kami baru banget kenal. Khadijah lumayan anteng sih di tempat ini, tapi ada satu yang buat dia nangis jerit-jerit, ada sebuah patung, kayaknya sih itu patung Ibu Raminten, wanita jawa lengkap dengan konde dan kebayanya. Waktu khadijah liat patung itu, dia nangis kejer sampe melintir-melintir. Hari semakin malam dan sebenernya ada kegiatan kebersamaan dari kantor di hotel tempat kami menginap dan kami udah telat beberapa jam. Setelah berpamitan dan berterima kasih kepada kerabatnya babeh, eitss gak lupa juga ngasihin oleh-oleh dari babeh buat dia, kami pun pesan grab lagi untuk kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel kami langsung menuju ke ruangan tempat rekan-rekan kantorku berkumpul, ketika aku datang mereka sedang main game, aku langsung bergabung. Khadijah sama suamiku nonton aja sambil nyicip-nyicip makanan yang memang sudah disiapkan untuk kami sebelumnya. Lagi asik-asiknya main game, terdengar suara merdu dari Khadijah yang mulai ngantuk dan mengajak untuk nyonyo (netek) sambil tidur, akhirnya aku berpamitan kepada rekan-rekan untuk kembali ke kamar duluan dan tidak bisa mengikuti acara sampai selesai. Di kamar Khadijah langsung tertidur lelap setelah puas minum ASI, aku auto tidur juga karena udah capek seharian aktifitas, suamiku.. dia juga tertidur dengan remot tv yang masing dalam genggaman.
Pas baru banget nyampe hotel

Ini fasilitias yang disiapin di kamar mandi Grage Hotel

Ini fasilitias yang disiapin di kamar mandi Grage Hotel

Sambil nunggu kerabat babeh, eksis dulu.. Cekrek

Cangkirnya membuat susu jahe ini makin sippp

Setelah memesan banyak makanan dan bingung makan yang mana duluan


Makanan dari angkringan Raminten ini enak banget dan harga terjangkau

Itu patung yang aku ceritain, Khadijah nangis kejer liatnya

Jadi ini nih kerabat babeh, namanya Tante Lydia

Senin, 21 Januari 2019

#10yearschallenge


-2009~2019-
Perlu waktu lama untuk bisa seperti saat ini
Perlu banyak drama untuk menciptakan realita
Sering aku salut pada lelaki ini
Jika ku ceritakan bukan jariku yang akan bicara, tapi air mata
Kenapa dia?
Itu cinta atau buta?
Jika ku jelaskan, kau bilang itu alasan
Jika ku jelaskan, kau bilang itu naif atau bodoh
Jika kau tak bertanya, aku tidak sedang menjawabmu, aku tidak sedang menulis tentang kamu
Aku masih salut pada lelaki ini
Setiap sabarnya membuahkan hasil, Aku dan lalu Khadijah
Sekarang aku bersyukur, atas apapun yang Dia berikan untuk ku, untuk kami

Nev

Kamis, 03 Januari 2019

Bayi Tujuh Bulan Cave Tubing di Gua Pindul


Khadijah Goes to Yogyakarta Part 1 Goa Pindul
Bayi umur 7 bulan kuat diajak jalan-jalan ke Yogyakarta naik bis?

Awalnya saya juga bertanya yang sama, apa bisa Khadijah, kami (saya, suami dan rekan kantor saya) bawa jalan-jalan ke Yogyakarta untuk acara kebersamaan dari kantor? Semakin mendekati hari-H saya semakin khawatir dan bimbang. Kasihan, ribet, gada pengalaman tapi akhirnya kami (saya dan suami) memantapkan hati untuk membawa Khadijah bersama kami. Banyak informasi yang saya baca di google untuk mempersiapkan perjalan pertama Khadijah. Paling utama adalah MPASInya, karena bingung juga kalau bawa dari rumah udah pasti aja basi kan? Alternatifnya ya kami bawa bubur bayi instan dan buah pisang. Untungnya Khadijah suka buah pisang dan untungnya juga Khadijah masih ASI, ga begitu repot bikin susu dulu kalau dia mulai ngerengek karena haus. Dari semua persiapan, pastinya persiapan Khadijah yang paling ribet. Perintilannya banyak banget, dari mulai yang kecil sampe yang besar. Dari mulai mainan sampe obat-obatan, popok dan baju ganti dia itu ngabisin setengah koper sendiri.
Perintilan Khadijah : 
1. Boneka tidurnya
2. Alat kebersihan, anduk, tisu basah, tisu kering, minyak telon, diaper rush cream, transpulmin, nasal aspirator (jaga2 kalau dia pilek)
3. Alat makan
4. Bubur instan, susu formula plus termos isi aer panas
5. Beberapa mainan yang bisa dibawa (gak kepake, aseli!)
6. Bantal donat (sangat sangat sangat berguna, gantinya kasur gaes)

Okehh, hari keberangkatan pun tiba. Saya bawa satu koper medium, satu ransel, satu tas bayi buat kebutuhan Khadijah yang mendadak dan harus siap tanpa buka koper di bagasi. Pokoknya rempoooongggg deh, tapi kami semangat banget :) Kami berangkat sore biar bisa sampai di Yogyakarta pas pagi-pagi dan langsung jalan-jalan. Bersyukur juga berarti itu adalah jam tidur buat semua penumpang selama perjalanan. Pertama masuk bis, kami pilih duduk di tengah, setelah duduk beberapa menit, nyari posisi enak, kok perasaan sempit ya, aduhh dukdek banget gitu. Akhirnya kami memutuskan duduk di kursi belakang aja deh, yang panjang dan luas dan kosong. ahahahahahah surrrgawiiii... Gak sempit, gak dukdek juga, TAPI gaes rasanya duduk dibelakang itu kayak naik roller coaster!!!!! tersiksaaaaa mamakkkkkk. Mual, muntah terussss. Khadijah juga nangis terus karena
harus membiasakan diri gak tidur di kasur selama perjalanan ini :( Saya mulai cari solusi, gimana caranya biar perjalanan ini gak semenyiksa ini? Suami bilang, "minum tolak angin aja, bu." Saya ikutin saran suami, alhamdulillah lohh mual muntahnya ilang. Alhamdulillah, Khadijah juga tidur dengan nyenyak karena mungkin ada koneksi antara ibu dan anak atau karena si bantal donat yang lumayan bisa mengobati rasa kangennya sama kasur di rumah.

Pagi hari yang cerah dan sedikit gerah kami sampai di Yogyakarta. Tempat tujuan pertama kami adalah Gua Pindul, itu lohh yang duduk-duduk di ban terus jejeran di dalem sungai kayak ular-ularan. Khadijah kan masih kecil, bisa juga diajak nyemplung sungai? Bisa, aman kok. Kami semua semangat banget, wah pasti keren banget nih, udah siap beli kantong hape anti air buat foto-foto. Semua udah pake pelampung, Khadijah juga, udah bawa ban juga, lalu satu persatu kami duduk di atas ban mengambang di permukaan sungai. Perlahan-lahan mas-mas yang menuntun kami mulai menarik ban paling depan yang sambung menyambung dengan ban yang lain, mulai deh kami beraksi ganti-gantian ambil foto selfie. Tiba-tiba terdengar suara yang keras dari kejauhan, Khadijah nagis kejer, entah takut gelap, entah takut karena ibunya ada cukup jauh dari pandangannya. Sampai akhirnya saya dan suami harus dibawa keluar duluan karena tour guide kami khawatir takut Khadijah kenapa-kenapa karena nangisnya gak berenti-berenti meskipun sudah saya pangku (sebelumnya ayahnya yang mangku). Setelah kami sampai di tepi sungai, kami langsung berjemur karena celana kami basah dan akhirnya kami sadar, mungkin Khadijah nangis karena kedinginan. Kaki Khadijah kena air sungai yang dingin banget, dia anti air dingin gaes. Setelah kami berjemur, Khadijah ceria lagi. 
Kesimpulannya, wisata Gua Pindul itu aman untuk bayi selagi gak musim hujan dan selagi bayi-bayi anada adalah bayi gak takut dingin dan gak takut gelap dan gak takut uka-uka. Katanya kalau lagi musim hujan, permukaan sungai di Gua Pindul itu bisa naik sampai mendekati langit-langit gua. Selesai main air di Gua Pindul kami ganti baju dan makan siang, Khadijah makan bubur instan dan pisang. Destinasi pertama, lumayan lah yaa...

Cerita bersambung ke postingan berikutnya ya..
Terima kasih sudah membaca.











Kamis, 22 Maret 2018

Deskripsi Masa Lalu

Namaku Chandrani
Sederhana
dan mati karena cinta
Terbangun karena harapan
Berjalan tanpa tujuan
.
Namanya Trisna
Hidup dengan gaya
Terjerat kisah rumit
Antara cinta, keinginan dan keluarga
.
Akankah perjuangan
Menuai hasil yang mengagumkan
Tanpa cacat
Tanpa acara rapat dan syarat
Yang jadi harapan
Sampai kini masih saja semu
Yang mempunyai perjalanan
Masih saja belum menuju
Aku ingin membunuh
Atau sebaiknya diriku sendiri
Aku ingin mengelak
Untuk bertatap berhadapan denganmu
Ps : perjuangan sudah berhasil, harapan sudah menjadi kenyataan, perjalanan sudah tertuju, aku tak jadi membunuh, setiap hari aku bertatap berhadapan dengannya.

Kamis, 20 Juli 2017

Sekilas Tana Toraja

Tana Toraja
Tana Toraja
Tana Toraja adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Tana toraja memiliki banyak tempat wisata yang menarik, salah satunya adalah wisata pemakaman. Salah satu pemakaman leluhur di Toraja dinamakan Londa. Londa adalah pemakaman yang bertempat di dalam gua. Gua Londa sangat luas tapi di dalamnya sempit dan gelap sehingga kita membutuhkan bantuan juru kunci dan alat penerangan supaya tidak tersesat. Gua londa berusia sudah hampir 1000 tahun. Hanya keluarga keturunan bangsawan yang bisa dimakamkan di Londa.

Erong adalah peti mati yang dipakai oleh orang Toraja. Di luar Londa ada banyak erong yang digantung. Ketekesu adalah nama untuk makam gantung di Toraja. Semakin tinggi posisi erong, semakin tinggi juga kehormatan atau kekayaan yang dimiliki oleh orang yang meninggal. Ada tiga bentuk erong, yang pertama yang berbentuk seperti rumah adat artinya keturunan bangsawan, yang kedua berbentuk seperti kerbau artinya makam laki-laki dan yang ketiga berbentuk babi artinya makam perempuan.
Erong
Kambira
Selain Londa, ada juga makam yang dibuat di dalam batu yang dipahat atau dilubangi lebih dulu, namanya Bori Parinding. Ini juga makam untuk keluarga bangsawan. Setiap lubang hanya diisi oleh keluarga yang serumpun atau satu marga. Toraja juga memiliki makam khusus untuk bayi yang belum mempunyai gigi atau berusia sekita 6 bulan. Kambira adalah nama untuk makam bayi yang belum mempunyai gigi. Bayi-bayi tersebut akan disimpan di dalam pohon besar yang sebelumnya sudah dilubangi terlebih dulu. Orang-orang Toraja pada jaman dulu percaya, bayi-bayi seperti kembali ke dalam perut Ibu jika disimpan didalam kambira, karena pohon mempunyai cairan getah yang putih yang sama seperti susu ibu sehingga mereka tidak akan kelaparan di dunia sana. Bila batang pohon sudah kembali rapat, orang Toraja percaya kalua bayi sudah bahagia bersama Tuhan.

Lemmo artinya jeruk, lemmo juga berarti kuburan batu yang berbentuk bulat seperti jeruk.  Ada banyak makam batu dan gua di Toraja, alsannya adalah karena leluhur mereka mau memperlakukan jenazah dengan baik. Dipilihlah batu dan gua supaya jenazah tidak mudah rusak terkena air atau tanah dan juga supaya bisa dilihat oleh cucu-cucunya kelak. Hampir di semua pemakaman akan ditemukan Tau-tau, patung yang berbentuk sama seperti orang yang meninggal, patung tau-tau biasanya dibuat untuk para bangsawan saja.
Rambu Solo
Rambu solo adalah ritual untuk mengantarkan orang yan meninggal, upacara ini dilakukan setelah jam 12 siang waktu matahari mulai bergerak turun. Seseorang belum dianggap meninggal sempurna jika belum mengikuti upacara Rambu Solo. Upacara Rambu Solo memerlukan biaya yang sangat besar, bisa mencapai ratusan juta atau milyaran rupiah. Hal tersebut dikarenakan ada binatang persembahan yang harus ada dalam upacara ini. Itu sebabnya ada banyak keluarga yang menyimpan jenazah keluarganya selama bertahun-tahun sambil mengumpulkan uang untuk mengadakan upacara Rambu Solo. Binatang yang dipersembahkan adalah kerbau dan babi. Orang Toraja percaya kalau kerbau adalah kendaraan yang bisa mengantarkan jiwa yang meninggal sampai ke surga.

Kerbau yang dikurbankan pun bukan sembarang kerbau. Kerbau yang akan dikurbankan dalam Upacara Rambu Solo adalah Tedong Bonga (kerbau bule) Belang, dari jenis Bubalus bubalis yang biasa dikenal sebagai kerbau lumpur. Kerbau ini mempunyai ciri albino (bule) dan warna kulit yang belang. Harga seekor kerbau ini sekitar 20-50 juta rupiah. Namun untuk kerbau yang spesial, harganya bisa mencapai sekitar 600 juta rupiah.

Tedong Bonga

Sedangkan untuk jumlah kerbau yang akan dikurbankan pada Rambu Solo ini, tergantung dari strata sosial keluarga yang berduka. Semakin tinggi strata sosial sebuah keluarga, semakin banyak pula jumlah kerbau yang dikurbankan. Untuk keluarga dengan strata sosial menengah, biasanya kurbau yang dikurbankan sebanyak 8-10 ekor ditambah babi sebanyak 30-50 ekor. Namun untuk keluarga dari kalangan bangsawan, kerbau yang dikurbankan berjumlah sekitar 25-150 ekor. Dengan demikian tidak mengherankan jika biaya yang digunakan untuk melaksanakan Rambu Solo bisa mencapai 4-5 miliyar rupiah. Sebagian besar dari biaya tersebut digunakan untuk membeli persyaratan hewan kurban ini.

Dalam upacara Rambu Solo juga ada tarian duka cita yang dinamakan Mak Badong, tarian ini adalah tarian sakral dan harus dilakukan sesuai aturan adat yang berlaku, kalau ada yang mempermainkan tarian dan nyanyian ini, orang tersebut akan meninggal. Setelah menjalani proses yang panjang, kemudian jenazah akan dibawa ke Patane, makam yang berbentuk rumah. Hal ini dikarenakan makam gua atau batu sudah penuh.

Sumber : Ringkasan pribadi
Materi : Indonesia Bagus (NET TV) - Tana Toraja
Foto-Foto : Google
x
x

Senin, 01 Agustus 2016

Jangan datang ke Ujung Genteng !!! Nanti gak mau pulang :)

Pantai Ujung Genteng saat sunset
         
Pantai Ujung Genteng ini adalah salah satu pantai yang ada di Jawa Barat. Tepatnya ada di daerah Sukabumi. Perlu waktu kurang lebih 10 jam untuk sampai ke pantai ini. Dua tahun yang lalu, aku sama temen-temen back packer'an ke pantai ini. Wow perjalanan yang luar bisa menguras tenaga. Awal perjalanan kami berangkat dari tempat kami bekerja di daerah Kebon Jati. Kami harus naik taksi karena kami memutuskan untuk berangkat subuh, supaya sampai disana tidak terlalu sore. Kami naik taksi sampai ke terminal Leuwi Panjang. Lanjut dari Leuwi Panjang, kami naik bis jurusan Bandung-Sukabumi dengan harga per-tiketnya adalah 21.000 rupiah. Perjalanan Bandung-Sukabumi memakan waktu sekitar 3 Jam, karena sudah dekat waktu makan siang kami pun mampir di salah satu warung nasi yang ada di terminal bis Sukabumi. Harga seporsi makanan tidak jauh beda dengan harga di Bandung, tergantung lauk apa yang kita pilih.
Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot untuk menuju daerah bernama Lembur Situ. FYI guys, Lembur situ ini adalah salah satu terminal angkutan umum di Sukabumi. Ada angkot, Elep, dan bis. Ongkos dari terminal Sukabumi sampai ke terminal Lembur Situ adalah 3000 rupiah dengan lama perjalanan sekitar 30 menit. Dari terminal Lembur Situ kami melanjutkan perjalanan ke Surade dengan menggunakan elep. Ongkos elep ini adalah 25.000, ini adalah puncak perjalanan yang sesungguhnya. Puncak pegel-pegel, puncak mual-mual, puncak segala rasa campur aduk kayak nano-nano. Jalan perkampungan yang dilewati masih belum beraspal. Perjalanan naik turun bukit yang berbatu, tapi pemandangan perkampungan yang dilewati cukup mengobati rasa nano-nano tadi, untuk sekedar tips sih kalo mau naik elep lebih baik pilih posisis kursi yang paling nyaman, supaya waktu elep mulai kontraksi di jalan, kita bisa dengan cepat menyesuaikan keseimbangan badan kita. Perjalanan ini memakan waktu 4 jam gaes, untuk sampai ke Surade. Satu angkutan umum terakhir untuk menutup perjalanan Bandung-Ujung Genteng adalah angkot dari Surade langsung ke tempat penginapan yang dituju, kebetulan waktu itu kami sudah booking satu kamar di Pondok Hexa. Perjalanan dari Surade ke Pondok Hexa sekitar 30 menit, dengan ongkos 15.000 rupiah. Sampailah kami di Pondok Hexa, Ujung Genteng. Kami sampai sekitar jam 16:30, kami simpan tas di kamar dan langsung menuju pantai yang ada di depan tempat penginapan kami.
Dari pantai ini kami bisa langsung melihat sunset yang indah, dan ombaknya juga bersahabat sehingga aman untuk aku yang gak bisa berenang. Puas bermain air di pantai, kami kembali ke penginapan dan melanjutkan berenang di kolam renang yang ada di penginapan. Harga kamar di Pondok Hexa yang kami sewa adalah 180.000 rupiah, bisa cukup untuk 4 orang, kami harus tambah satu ekstra kasur dengan harga 50.000 rupiah karena kami datang berlima.

NB : Ujung Genteng sebenarnya masih harus menempuh sekitar 20-30 menit lagi dari tempat penginapan kami, dengan menggunakan ojek atau angkot carteran. Untuk sarapan biasanya ada ibu-ibu yang datang ke setiap kamar dan menawarkan nasi kuning atau ketang dengan harga sekitar 5000 rupiah. Makan siang kami lakukan saat melakukan perjalanan ke tempat wisata lain di sekitar Surade, Sukabumi. Makan malam kami cukup mewah dengan menu olahan seafood fresh dari pelabuhan, ada banyak warung seafood di sekitar tempat penginapan kami dan bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Harga seafood sangat terjangkau, dan dalam porsi yang besar, jadi kalau kemahalan kan bisa patungan :) HATI-HATI dengan barang berharga kalian ya, lebih baik antisipasi dari pada makan hati :)

Sekian cerita perjalanku, sampai ketemu di cerita selanjutnya..

-Nevri Chandrani Nooringhati-