Kamis, 22 Maret 2018

Deskripsi Masa Lalu

Namaku Chandrani
Sederhana
dan mati karena cinta
Terbangun karena harapan
Berjalan tanpa tujuan
.
Namanya Trisna
Hidup dengan gaya
Terjerat kisah rumit
Antara cinta, keinginan dan keluarga
.
Akankah perjuangan
Menuai hasil yang mengagumkan
Tanpa cacat
Tanpa acara rapat dan syarat
Yang jadi harapan
Sampai kini masih saja semu
Yang mempunyai perjalanan
Masih saja belum menuju
Aku ingin membunuh
Atau sebaiknya diriku sendiri
Aku ingin mengelak
Untuk bertatap berhadapan denganmu
Ps : perjuangan sudah berhasil, harapan sudah menjadi kenyataan, perjalanan sudah tertuju, aku tak jadi membunuh, setiap hari aku bertatap berhadapan dengannya.

Kamis, 20 Juli 2017

Sekilas Tana Toraja

Tana Toraja
Tana Toraja
Tana Toraja adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Tana toraja memiliki banyak tempat wisata yang menarik, salah satunya adalah wisata pemakaman. Salah satu pemakaman leluhur di Toraja dinamakan Londa. Londa adalah pemakaman yang bertempat di dalam gua. Gua Londa sangat luas tapi di dalamnya sempit dan gelap sehingga kita membutuhkan bantuan juru kunci dan alat penerangan supaya tidak tersesat. Gua londa berusia sudah hampir 1000 tahun. Hanya keluarga keturunan bangsawan yang bisa dimakamkan di Londa.

Erong adalah peti mati yang dipakai oleh orang Toraja. Di luar Londa ada banyak erong yang digantung. Ketekesu adalah nama untuk makam gantung di Toraja. Semakin tinggi posisi erong, semakin tinggi juga kehormatan atau kekayaan yang dimiliki oleh orang yang meninggal. Ada tiga bentuk erong, yang pertama yang berbentuk seperti rumah adat artinya keturunan bangsawan, yang kedua berbentuk seperti kerbau artinya makam laki-laki dan yang ketiga berbentuk babi artinya makam perempuan.
Erong
Kambira
Selain Londa, ada juga makam yang dibuat di dalam batu yang dipahat atau dilubangi lebih dulu, namanya Bori Parinding. Ini juga makam untuk keluarga bangsawan. Setiap lubang hanya diisi oleh keluarga yang serumpun atau satu marga. Toraja juga memiliki makam khusus untuk bayi yang belum mempunyai gigi atau berusia sekita 6 bulan. Kambira adalah nama untuk makam bayi yang belum mempunyai gigi. Bayi-bayi tersebut akan disimpan di dalam pohon besar yang sebelumnya sudah dilubangi terlebih dulu. Orang-orang Toraja pada jaman dulu percaya, bayi-bayi seperti kembali ke dalam perut Ibu jika disimpan didalam kambira, karena pohon mempunyai cairan getah yang putih yang sama seperti susu ibu sehingga mereka tidak akan kelaparan di dunia sana. Bila batang pohon sudah kembali rapat, orang Toraja percaya kalua bayi sudah bahagia bersama Tuhan.

Lemmo artinya jeruk, lemmo juga berarti kuburan batu yang berbentuk bulat seperti jeruk.  Ada banyak makam batu dan gua di Toraja, alsannya adalah karena leluhur mereka mau memperlakukan jenazah dengan baik. Dipilihlah batu dan gua supaya jenazah tidak mudah rusak terkena air atau tanah dan juga supaya bisa dilihat oleh cucu-cucunya kelak. Hampir di semua pemakaman akan ditemukan Tau-tau, patung yang berbentuk sama seperti orang yang meninggal, patung tau-tau biasanya dibuat untuk para bangsawan saja.
Rambu Solo
Rambu solo adalah ritual untuk mengantarkan orang yan meninggal, upacara ini dilakukan setelah jam 12 siang waktu matahari mulai bergerak turun. Seseorang belum dianggap meninggal sempurna jika belum mengikuti upacara Rambu Solo. Upacara Rambu Solo memerlukan biaya yang sangat besar, bisa mencapai ratusan juta atau milyaran rupiah. Hal tersebut dikarenakan ada binatang persembahan yang harus ada dalam upacara ini. Itu sebabnya ada banyak keluarga yang menyimpan jenazah keluarganya selama bertahun-tahun sambil mengumpulkan uang untuk mengadakan upacara Rambu Solo. Binatang yang dipersembahkan adalah kerbau dan babi. Orang Toraja percaya kalau kerbau adalah kendaraan yang bisa mengantarkan jiwa yang meninggal sampai ke surga.

Kerbau yang dikurbankan pun bukan sembarang kerbau. Kerbau yang akan dikurbankan dalam Upacara Rambu Solo adalah Tedong Bonga (kerbau bule) Belang, dari jenis Bubalus bubalis yang biasa dikenal sebagai kerbau lumpur. Kerbau ini mempunyai ciri albino (bule) dan warna kulit yang belang. Harga seekor kerbau ini sekitar 20-50 juta rupiah. Namun untuk kerbau yang spesial, harganya bisa mencapai sekitar 600 juta rupiah.

Tedong Bonga

Sedangkan untuk jumlah kerbau yang akan dikurbankan pada Rambu Solo ini, tergantung dari strata sosial keluarga yang berduka. Semakin tinggi strata sosial sebuah keluarga, semakin banyak pula jumlah kerbau yang dikurbankan. Untuk keluarga dengan strata sosial menengah, biasanya kurbau yang dikurbankan sebanyak 8-10 ekor ditambah babi sebanyak 30-50 ekor. Namun untuk keluarga dari kalangan bangsawan, kerbau yang dikurbankan berjumlah sekitar 25-150 ekor. Dengan demikian tidak mengherankan jika biaya yang digunakan untuk melaksanakan Rambu Solo bisa mencapai 4-5 miliyar rupiah. Sebagian besar dari biaya tersebut digunakan untuk membeli persyaratan hewan kurban ini.

Dalam upacara Rambu Solo juga ada tarian duka cita yang dinamakan Mak Badong, tarian ini adalah tarian sakral dan harus dilakukan sesuai aturan adat yang berlaku, kalau ada yang mempermainkan tarian dan nyanyian ini, orang tersebut akan meninggal. Setelah menjalani proses yang panjang, kemudian jenazah akan dibawa ke Patane, makam yang berbentuk rumah. Hal ini dikarenakan makam gua atau batu sudah penuh.

Sumber : Ringkasan pribadi
Materi : Indonesia Bagus (NET TV) - Tana Toraja
Foto-Foto : Google
x
x

Senin, 01 Agustus 2016

Jangan datang ke Ujung Genteng !!! Nanti gak mau pulang :)

Pantai Ujung Genteng saat sunset
         
Pantai Ujung Genteng ini adalah salah satu pantai yang ada di Jawa Barat. Tepatnya ada di daerah Sukabumi. Perlu waktu kurang lebih 10 jam untuk sampai ke pantai ini. Dua tahun yang lalu, aku sama temen-temen back packer'an ke pantai ini. Wow perjalanan yang luar bisa menguras tenaga. Awal perjalanan kami berangkat dari tempat kami bekerja di daerah Kebon Jati. Kami harus naik taksi karena kami memutuskan untuk berangkat subuh, supaya sampai disana tidak terlalu sore. Kami naik taksi sampai ke terminal Leuwi Panjang. Lanjut dari Leuwi Panjang, kami naik bis jurusan Bandung-Sukabumi dengan harga per-tiketnya adalah 21.000 rupiah. Perjalanan Bandung-Sukabumi memakan waktu sekitar 3 Jam, karena sudah dekat waktu makan siang kami pun mampir di salah satu warung nasi yang ada di terminal bis Sukabumi. Harga seporsi makanan tidak jauh beda dengan harga di Bandung, tergantung lauk apa yang kita pilih.
Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot untuk menuju daerah bernama Lembur Situ. FYI guys, Lembur situ ini adalah salah satu terminal angkutan umum di Sukabumi. Ada angkot, Elep, dan bis. Ongkos dari terminal Sukabumi sampai ke terminal Lembur Situ adalah 3000 rupiah dengan lama perjalanan sekitar 30 menit. Dari terminal Lembur Situ kami melanjutkan perjalanan ke Surade dengan menggunakan elep. Ongkos elep ini adalah 25.000, ini adalah puncak perjalanan yang sesungguhnya. Puncak pegel-pegel, puncak mual-mual, puncak segala rasa campur aduk kayak nano-nano. Jalan perkampungan yang dilewati masih belum beraspal. Perjalanan naik turun bukit yang berbatu, tapi pemandangan perkampungan yang dilewati cukup mengobati rasa nano-nano tadi, untuk sekedar tips sih kalo mau naik elep lebih baik pilih posisis kursi yang paling nyaman, supaya waktu elep mulai kontraksi di jalan, kita bisa dengan cepat menyesuaikan keseimbangan badan kita. Perjalanan ini memakan waktu 4 jam gaes, untuk sampai ke Surade. Satu angkutan umum terakhir untuk menutup perjalanan Bandung-Ujung Genteng adalah angkot dari Surade langsung ke tempat penginapan yang dituju, kebetulan waktu itu kami sudah booking satu kamar di Pondok Hexa. Perjalanan dari Surade ke Pondok Hexa sekitar 30 menit, dengan ongkos 15.000 rupiah. Sampailah kami di Pondok Hexa, Ujung Genteng. Kami sampai sekitar jam 16:30, kami simpan tas di kamar dan langsung menuju pantai yang ada di depan tempat penginapan kami.
Dari pantai ini kami bisa langsung melihat sunset yang indah, dan ombaknya juga bersahabat sehingga aman untuk aku yang gak bisa berenang. Puas bermain air di pantai, kami kembali ke penginapan dan melanjutkan berenang di kolam renang yang ada di penginapan. Harga kamar di Pondok Hexa yang kami sewa adalah 180.000 rupiah, bisa cukup untuk 4 orang, kami harus tambah satu ekstra kasur dengan harga 50.000 rupiah karena kami datang berlima.

NB : Ujung Genteng sebenarnya masih harus menempuh sekitar 20-30 menit lagi dari tempat penginapan kami, dengan menggunakan ojek atau angkot carteran. Untuk sarapan biasanya ada ibu-ibu yang datang ke setiap kamar dan menawarkan nasi kuning atau ketang dengan harga sekitar 5000 rupiah. Makan siang kami lakukan saat melakukan perjalanan ke tempat wisata lain di sekitar Surade, Sukabumi. Makan malam kami cukup mewah dengan menu olahan seafood fresh dari pelabuhan, ada banyak warung seafood di sekitar tempat penginapan kami dan bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Harga seafood sangat terjangkau, dan dalam porsi yang besar, jadi kalau kemahalan kan bisa patungan :) HATI-HATI dengan barang berharga kalian ya, lebih baik antisipasi dari pada makan hati :)

Sekian cerita perjalanku, sampai ketemu di cerita selanjutnya..

-Nevri Chandrani Nooringhati-